Banyak peristiwa dan opini untuk mendesak agar Soekarno membubarkan HMI. Dari peristiwa Utrect di Universitas Brawijaya Cabang Jember, yang melarang HMI hidup di kampus.
Lalu, CGMI dan kawan seideologi mengeluarkan HMI dari anggota Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Islam (PPMI). Mereka berhasil. Oktober 1964 HMI diskors dari keanggotaan PPMI.
Hal ini berlanjut pada upaya terus untuk pelarangan kader HMI di Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) agar HMI tidak dapat menjabat di organisasi intra kampus, seperti di UI, ITB, UGM, IPB, Unpad, Unhas, USU, dan lainnya. Semua tantangan ini dihadapi pantang mundur oleh kader HMI.
Polisi di Solo Amankan Seorang Warga Bali, Ternyata Jual Miras Ditempat Kos
HMI juga difitnah sebagai anak kandung Masyumi, Islam radikal, menolak Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi (Pembesrev), anti revolusi, antek imperialis, dan sekeranjang fitnah agar Presiden Soekarno membubarkan HMI, seperti Partai Masyumi dan GPII yang telah diperintah untuk bubar.
Menghadapi situasi gawat ini, PB HMI membuka jalan ke istana. Melakukan komunikasi politik untuk memberikan informasi banding atas fitnah PKI ke Soekarno. Salah satunya melalui menteri Pak Roeslan Abdulgani, Sucipto, dan menteri Syarif Tayeb.
Sampai kemudian Presiden Soekarno bersedia menjadi instruktur memberikan materi di kegiatan perkaderan HMI meningkatkan militansi yang progresif revolusioner di seluruh Indonesia. Dan HMI mengakui Presiden Soekarno sebagai Pembesrev. Tapi sebagai kompromi politiknya, HMI Cabang Jember dibekukan akibat kasus Utrect.
Dugaan Kuat Penyimpangan Lettu AAP Muncul dari FB, Potret Tak Lazim Bersama Teman Pria
Solidaritas membela HMI agar jangan dibubarkan datang dari PII dan Generasi Muda Islam (Gemuis) yang dikomandani GP Anshor, Pak Yusuf Hasyim. “Langkahi mayatku sebelum membubarkan HMI” dari kader PII menjadi energi yang mengobarkan semangat perjuangan kader HMI. Dari PMKRI juga membela HMI.
Support moral dan politik datang juga dari petinggi ABRI/ Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani. Bahkan kader HMI dilatih fisik dan teknik menggunakan senjata. Pak Yani mengatakan, “Jika HMI hari ini diganyang oleh PKI, maka tidak mustahil, besok atau lusa PKI akan mengganyang Angkatan Darat”.***