SUKOHARJO (Keadilan.net) – Peristiwa penjebolan tembok Baluwarti sisi barat bagian luar Keraton Kartasura di Kampung Krapyak Kulon RT 02 / RW 10, Kelurahan / Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang terjadi dua tahun lebih yang lalu hingga kini belum nampak aktivitas untuk mengembalikannya sebagaimana mestinya.
Hal itu memicu keprihatinan berbagai kalangan masyarakat yang peduli terhadap pelestarian cagar budaya. Pasalnya, tembok dari batu bata kuno yang dijebol itu telah diputus oleh pengadilan untuk dikembalikan sebagaimana mulanya belum juga dilakukan.
Sebagai bentuk ekspresi keprihatinan sekaligus menggugah kesadaran serta ajakan peduli, kelompok masyarakat yang tergabung dalam wadah Masyarakat Kartasura Bermartabat (Mas Karebet) menggelar pentas teater dengan judul “Jebole Benteng Kartasura” di Taman Budaya Suryani, Sukoharjo.
MAS KAREBET Audiensi Dikbud Sukoharjo: Kolaborasi Menuju Peningkatan Budaya dan Pariwisata
Pentas teater yang disutradarai Marsudi Widodo pada, Jum’at (5/7/2024) lalu itu, ingin menggambarkan peristiwa penjebolan tembok yang merupakan bangunan cagar budaya tersebut mengindikasikan terputusnya informasi sejarah sebagai identitas bangsa di tengah masyarakat.
Pimpinan Produksi, dj Respati dalam rilisnya menyampaikan, pentas teater kali ini juga sebagai sebuah edukasi intensif kepada masyarakat khususnya sekitar benteng Kartasura agar peristiwa penjebolan, pengrusakan benda cagar budaya tidak terulang kembali.
“Pentas teater bahasa Jawa ini kita angkat mengingat dua kali kita kecolongan dalam menjaga Benda Cagar Budaya, yakni jebolnya Benteng Baluwarti Kartasura yang kita sebut diawal dan jebolnya tembok Ndalem Singopuran,” katanya, Kamis (11/7/2024).
Gelar Sarasehan Budaya, Upaya Mas Karebet Jaga Nilai Sejarah Kartasura
Ia menuturkan, saat kejadian begitu menyita dan menggemparkan perhatian publik, semua peduli pada cagar budaya, namun setelah itu dihempas angin menjadi sunyi kembali tak ada kabar yang disampaikan ke publik oleh para pemangku kepentingan.
“Realita itu yang kita angkat dalam cerita pentas teater ini. Kesadaran kita sebagai warga masyarakat, pelaku usaha, termasuk budayawan maupun para pemangku kepentingan acap kali terlambat dalam melihat perubahan sosial ekonomi yang beririsan dengan penyelamatan benda cagar budaya,” sebutnya.
Melalui pentas teater itu, Mas Karebet mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap peninggalan masa lalu sebagai upaya memelihara ingatan kolektif warga masyarakat, terlebih kota Kartasura pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam.
Mas Karebet Gelar Sarasehan Budaya, Sejarah Kartasura Penuh dengan Cinta Bukan Hanya Perang Saja