Hal tersebut diketahui Dandim ketika menggelar acara serupa dengan sasaran anak muda. Dimana ternyata masih banyak yang belum mengerti tentang wawasan kebangsaan.
“Beberapa kali kami mengadakan kegiatan tentang wawasan kebangsaan pada anak muda, mereka hafal saja tidak, dan ini takutnya nanti dengan mudah disusupi paham-paham radikal,” ujarnya.
Oleh karenanya, Dandim pun berharap dengan kegiatan ini dapat dijadikan sebagai upaya cegah tangkal, dan dapat mencari solusinya jika ditemukan potensi penyebaran faham radikalisme.
Ancaman Baru Covid-19, Wapres Minta Masyarakat Waspada dan Tetap Prokes
Sementara, Atok sebagai tim dakwah dari Yayasan De Bintal yang didirikan oleh Densus 88, menyampaikan, saat ini tim dakwah memiliki program-program yaitu, melakukan deradikalisasi dan kontra radikalisasi ke lapas-lapas seluruh Indonesia.
Ia mengaku, sekarang ini aktif mendatangi Lembaga Permasyarakatan (LP) Klaten. Sebab di LP tersebut terdapat tiga eks napiter dan dari khilafatul muslimin.
“Yang kami lakukan ceramah-ceramah, pembinaan kami meliputi berbagai segi, ada dari sisi ekonomi,” ucap pria yang baru keluar tahanan satu tahun lalu itu.
Tragedi Halloween Maut di Itaewon Korsel, 2 WNI Dikabarkan Selamat
Selain melakukan program deradikalisasi, Yayasan De Bintal juga membangun unit usaha yang berspesialisasi pada pengelolaan telur puyuh, pemotongan ayam, dan sablon.
“Saya awalnya dari kasus jalen janto, saya megang tiket. Kemudian saya gabung di tim Sigit Qordowi yang disini meninggal tembak-tembakan,” ungkapnya.
Dari situ ia dijatuhi hukuman 15 tahun kurungan. Namun di tahun 2012, ia justru kabur dari tahanan.
“Sebenarnya awalnya hukuman saya enam tahun, karena kabur dan ditengah kabur itu saya membikin bom dan ditambahi sembilan tahun,” tandasnya. (Nugroho)