UMS Gelar Konferensi Internasional SIML 2025, Angkat Isu AI

Konferensi dengan menghadirkan pembicara dari berbagai negara

3 Juni 2025, 23:55 WIB

SOLO (Keadilan.net) – Mengangkat isu teknologi digital Artificial Intelligence (AI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar International Conference on Smart Computing, IoT, and Machine Learning (SIML) dengan tema ‘Harnessing Artificial Intelligence and Smart Technologies to Build Sustainable, Inclusive, and Resilient Communities’.

Konferensi dengan menghadirkan pembicara dari berbagai negara untuk mendiskusikan peran teknologi cerdas dalam membangun masyarakat yang tangguh dan inklusif itu, berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS selama dua hari, Selasa- Rabu (3-4/6/ 2025).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) UMS yang merupakan edisi kedua, setelah pertama kali diselenggarakan pada 2024.

Ketua Panitia SIML 2025, Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom, Ph.D., menyampaikan, konferensi ini bertujuan untuk menyediakan wadah ilmiah bagi para peneliti, khususnya di bidang AI dan Machine Learning.

“Selama ini kami belum punya venue untuk mendiseminasikan hasil riset di Program Studi Teknik Informatika UMS. SIML hadir untuk itu, sekaligus menjadi ajang promosi UMS agar lebih dikenal sebagai kampus yang aktif di bidang riset AI,” kata dosen yang akrab disapa Dadang ini, Selasa (3/6/2025).

Ia mencatat adanya peningkatan signifikan dalam jumlah pengajuan makalah ilmiah tahun ini. Submission meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu. Hal ini menurutnya, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari komunitas riset, baik dari dalam maupun luar negeri.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor V UMS Prof. Supriyono , S.T., M.T., Ph.D., yang juga menyampaikan sambutan kepada peserta dan world-class speakers.

Dalam sambutannya, ia memperkenalkan kiprah Muhammadiyah sebagai organisasi modern Islam yang memajukan pendidikan di Indonesia, serta UMS sebagai bagian penting dari jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Sesi plenari pertama menghadirkan keynote speaker Prof. Farah Benamara dari Toulouse University Paul Sabatier, Prancis, yang dalam paparannya menyoroti peran Natural Language Processing (NLP) untuk manajemen krisis, khususnya dalam pengklasifikasian urgensi informasi selama bencana.

Pembicara kedua, Prof. Anton Satria Prabuwono dari King Abdulaziz University, Saudi Arabia, mempresentasikan topik riset tentang sistem pelacakan halal berbasis IoT yang transparan dan otonom.

Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem halal global dengan teknologi yang andal dan akuntabel.

Selanjutnya, Assoc. Prof. Wei-Che Chien dari National Dong Hwa University, Taiwan, membahas tentang federated learning dalam ekosistem 5G dan IoT. Ia menyoroti tantangan utama dalam pendekatan ini, termasuk personalisasi data, sinkronisasi, hingga efisiensi handover antar jaringan.

Selanjutnya, pembicara terakhir dari UMS, Nurgiyanta, Ph.D., menutup sesi plenari dengan pendekatan unik bertajuk Love Informatic. Dekan FKI UMS itu menekankan pentingnya menjadikan AI sebagai teknologi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berempati dan etis.

“Di dunia yang semakin canggih, manusia justru harus semakin berbelas kasih. Konsep Love Informatic mencakup nilai-nilai cinta universal, niat baik, konektivitas, kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan nyata, serta penggunaan teknologi secara etis untuk mendukung masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Nugroho)

Berita Lainnya

Berita Terkini