SUKOHARJO (Keadilan.net) – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) akan melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Catur, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Seperti PPK 15 tim lainnya, kali ini mereka siap turun melaksanakan pengabdian bertajuk “Saung Toga : Revitalisasi Kebun TOGA (Tanaman Obat Keluarga) Sebagai Konservasi Tanaman Obat di Desa Catur.”
TOGA menjadi keunikan tersendiri bagi desa tersebut karena sering dikenal dengan Desa TOGA. Namun masyarakat belum ada yang mengelola hasil tanamannya menjadi sebuah bentuk komoditi.
Pulang Haji, Rektor UMS Sampaikan Terima Kasih kepada Raja Salman
Selain itu, permasalahan di Desa Catur yaitu mayoritas penduduknya adalah kelompok lanjut usia (lansia) yang memiliki penyakit diabetes melitus dan hipertensi.
Ketua Pelaksana Tim PPK Ormawa IMM FIK, Isna Alfiyani, beserta 12 anggotanya merencanakan beberapa program, meliputi pembangunan dan pemasifan konservasi lahan TOGA, pencerdasan dan pembuatan buku panduan mengenai penanaman, pengolahan dan pemanfaatan TOGA.
Kemudian, pembentukan kelompok kader TOGA Desa Catur (KAGACA), pencerdasan terkait pengelolaan administrasi dan manajemen organisasi kelompok KAGACA serta memasifkan potensi lahan.
Mendunia, Perpustakaan UMS Ikuti Ajang SEA Libraries of The Future Summit 2024 di Malaysia
Selain itu juga melakukan kegiatan meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan untuk mengurangi prevalensi diabetes elitus dan hipertensi, dan meningkatkan keterampilan warga tentang pembudidayaan TOGA di lahan kosong milik desa.
“Saung TOGA adalah tempat lahan penanaman tumbuhan obat-obatan di mana di dalam lahan ini akan ditanam berbagai macam jenis TOGA yang kemudian hasilnya akan diolah untuk dijadikan jamu, olahan rempah kering, dan lain-lain,” kata Isna dalam keterangannya yang diterima pada, Minggu (30/6/2024).
Isna juga menyampaikan bahwa saat kelompoknya melakukan observasi lapangan, pemerintah desa setempat sangat mendukung dengan adanya rencana program itu. Harapannya dapat membantu masyarakat dalam mengelola lahan kosong.
UMS Mendunia, Jadi Kampus Tujuan 8.000 Lebih Mahasiswa Asing
“Pemerintah desa setempat juga mendukung dengan menyiapkan beberapa lahan yang kosong untuk bisa digunakan kembali. Untuk tahapan yang dilakukan dalam melaksanakan program itu cukup banyak,” ungkapnya.
Dijelaskan, dimulai sejak awal tim datang untuk melakukan observasi langsung ke lapangan pada bulan Januari, kemudian melakukan koordinasi dengan aparat desa, dan program penanaman yang akan mulai dilakukan di bulan Juni, hingga proses selesai pada bulan Oktober.
“Harapannya tentunya program ini akan bermanfaat bagi masyarakat desa setempat, menjadikan sebagai ladang ekonomi tambahan untuk warga, dan membantu program desa dalam mengenalkan keunggulan-keunggulan yang ada di Desa Catur,” pungkas Isna. (Nugroho)