“Selama empat berdiri, belum pernah ada gesekan maupun konflik dengan kelompok atau ormas yang ada di Yogyakarta. Itu semua karena koordinasi yang baik,” ungkapnya.
Sedangkan Pengawas PT. BMP, Tri Juanto, menyampaikan, hingga saat ini total karyawan, rekanan, dan simpatisan secara keseluruhan sudah mencapai ribuan.
“Tetapi kalau untuk yang bekerja sebagai staf di masing-masing kantor cabang, rata-rata 20 orang. Sekarang kantor, temasuk kantor cabang kami ada 6 jumlahnya,” sebutnya.
Cek Stok Kebutuhan Pokok Masyarakat Jelang Idul Adha, Bupati Sukoharjo Blusukan ke Pasar
Enam kantor tersebut, yakni di Kramat Trangsan Gatak Sukoharjo, Solo, Gunungkidul, Kulonprogo, Yogyakarta, dan Klaten yang direncanakan akan dikembangkan lagi.
“Di PT. BMP ini kami tanamkan azas kekeluargaan. Jadi bagi yang berbuat salah, sepantasnya jika ditegur tidak marah. Itu artinya sudah paham. Tapi kalau ditegur masih ngeyel, dinasehati tidak bisa, ya kami lepas saja,” tegasnya.
Pasang surutnya loyalitas orang yang bergabung dengan PT. BMP, menurut pria yang akrab dengan panggilan Bang TJ ini, ditentukan oleh seleksi alam.
“Dan seleksi alam itu memang ada, namun kami tidak bisa menyebut nama. Jumlahnya tidak banyak, dan itu tidak akan mempengaruhi yang lainnya,” terang Tri.
PT. BMP lahir di Kota Solo pada, 24 Juli 2018, namun berdasarkan akta pendirian perusahaan tercatat pada, 19 Agustus 2018. Tujuannya untuk membuktikan, bahwa tidak selamanya orang yang mendapat label negatif tidak dapat berbuat baik.
“Bayonet ini berdiri bukan untuk gagah-gagahan. Ini berdiri untuk menjadi tempat bekerja bersama-sama. Tidak ada nama besar disini, semua sama,” tukas Tri.
Dinilai Merugikan, Solo Madani Indonesia Jaya Meminta Presiden Joko Widodo Koreksi RUU BPIP