SUKOHARJO (Keadilan.net) – Ratusan mantan buruh PT Sri Rejeki Isman (Sritex) kembali turun ke jalan menuntut hak pesangon dan tunjangan hari raya (THR) yang belum dibayarkan sejak perusahaan tekstil raksasa itu dinyatakan pailit. Aksi unjuk rasa digelar di depan bekas pabrik Sritex, Jl KH Samanhudi, Sukoharjo, pada Senin (10/11/2025).
Sejak pagi pukul 08.00 WIB, massa sudah memadati lokasi aksi. Mereka datang mengenakan pakaian serba hitam dengan pita merah putih di lengan, simbol perjuangan, solidaritas, sekaligus semangat kepahlawanan para buruh di Hari Pahlawan.
Para pengunjuk rasa membawa berbagai spanduk dan poster bernada tuntutan dan protes. Beberapa di antaranya bertuliskan, “Kurator, duitku wenehno!”, “Jangan bunuh hak-hak kami!”, hingga “Kami tak lagi memintal benang, tapi duka.” Salah satu poster bergambar aktivis buruh legendaris Marsinah dengan tulisan “Marsinah Tidak Mati, Kami Berlipat Ganda” menjadi ikon perlawanan dalam aksi tersebut.
Aksi dibuka dengan hiburan singkat diiringi organ tunggal, sebelum dilanjutkan dengan orasi dan pembacaan puisi bertema perjuangan dari atas truk bak terbuka yang difungsikan sebagai panggung utama. Teriakan “Bayar hak kami!” dan “Tolong kami, Pak Prabowo!” bergema di sepanjang aksi.
Koordinator aksi, Agus Wicaksono, menegaskan bahwa unjuk rasa ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap kurator yang hingga kini belum menunaikan kewajiban pembayaran hak-hak mantan karyawan.
“Kami sudah menunggu sembilan bulan tanpa kejelasan. Kurator belum juga membayar hak-hak kami, padahal itu hak normatif yang dijamin undang-undang,” tegas Agus.
Sementara itu, Widada, mantan Ketua SPSI Sritex, turut mendesak agar proses pelelangan aset perusahaan dipercepat agar hasilnya bisa digunakan untuk melunasi hak para buruh.
“Harapan kami, kurator segera menunaikan tanggung jawabnya. Aset Sritex harus segera dilelang agar hak-hak kami bisa dibayarkan secepatnya,” ujarnya.
Aksi yang berlangsung hingga pukul 12.30 WIB itu dikawal ketat oleh aparat Polres Sukoharjo. Meski sempat menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi, demonstrasi berjalan tertib dan berakhir tanpa insiden berarti. (Nugroho)