Ratusan Siswa di Klaten Diduga Keracunan MBG, Bupati Turun Tangan Soroti SOP

Pihak berwenang juga telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium

29 April 2026, 22:58 WIB

KLATEN (Keadilan.net)– Geger dugaan keracunan massal usai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, memicu respons cepat pemerintah daerah. Ratusan siswa SD dan SMP dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah menyantap menu MBG, Selasa (28/4/2026).

Sejak Rabu (29/4/2026) pagi, Puskesmas Majegan dipadati siswa yang datang silih berganti diantar orang tua dan didampingi guru untuk mendapatkan penanganan medis. Sejumlah korban juga harus dirujuk ke RS PKU Jatinom.

Menanggapi situasi tersebut, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo langsung turun ke lapangan dengan meninjau lokasi dapur SPPG Ayur Veda Sorogaten yang diduga menjadi sumber masalah. Ia didampingi jajaran Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta unsur Forkopincam dan Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam peninjauan itu, Bupati menegaskan kejadian ini menjadi alarm keras bagi seluruh pengelola program MBG, khususnya dalam menjaga standar keamanan pangan.

“Ini menjadi peringatan bagi seluruh pengelola SPPG agar lebih disiplin dalam menjalankan SOP,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa program MBG merupakan kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, sehingga pelaksanaannya tidak boleh menimbulkan risiko.

“Program ini sangat baik untuk mendukung anak-anak kita menjadi sehat, kuat, dan cerdas. Karena itu harus dijalankan maksimal tanpa menimbulkan masalah,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Ayur Veda, Roni, menyatakan pihaknya saat ini fokus mendampingi para siswa yang terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk proses investigasi.

“Kami mendampingi siswa di puskesmas terdekat. Untuk investigasi, kami berkoordinasi dengan Forkopimda dan Forkopincam,” ujarnya.

Pihak berwenang juga telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan.

Hingga kini, penanganan medis terhadap para korban masih berlangsung, sementara pemerintah daerah memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar insiden serupa tidak terulang.(NGR)

Berita Lainnya

Berita Terkini