Pejabat hingga Tokoh Masyarakat Iringi Pemakaman Dalang Legendaris Ki Anom Suroto

Jenazah Anom Suroto dimakamkan sekira pukul 15.00 WIB,  diberangkatkan dari rumah duka di Makamhaji, Kartasura

23 Oktober 2025, 21:49 WIB

SUKOHARJO (Keadilan.net) – Ratusan pelayat memadati rumah duka dan area pemakaman dalang kondang Ki H. Ageng Anom Suroto Lebdonagoro di Juwiring, Klaten, Kamis (23/10/2025) sore. Para pelayat berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat, tokoh masyarakat, hingga seniman, yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada maestro wayang kulit tersebut.

Jenazah Anom Suroto dimakamkan sekira pukul 15.00 WIB,  diberangkatkan dari rumah duka di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Ratusan orang mengiringi prosesi pemakaman dengan suasana haru, mengenang sosok dalang legendaris yang telah mengharumkan nama Indonesia hingga ke lima benua.

Sejumlah pejabat tampak hadir, di antaranya Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan Wakil Bupati Eko Sapto Purnomo, serta anggota DPR RI Mohammad Toha yang juga mantan Wakil Bupati Sukoharjo. Hadir pula sejumlah seniman terkenal seperti pelawak Kirun dan Yati Pesek, yang turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian sang maestro.

Anom Suroto meninggal dunia di usia 77 tahun di RS Dr Oen Kandangsapi, Solo, pada Kamis pagi sekira pukul 07.00 WIB, setelah menjalani perawatan selama lima hari.

Sebelum wafat, dalang besar yang dikenal lewat lakon “Wahyu Katentraman” dan “Semar Mbangun Kayangan” itu sempat berpesan kepada anak-anaknya untuk melestarikan seni tradisional dan menjaga kerukunan keluarga.

“Pesan bapak agar kami tetap meneruskan perjuangan beliau di dunia kesenian, khususnya seni pedalangan, dan selalu rukun,” ungkap Jatmiko, salah satu putranya.

Anom Suroto dikenal sebagai duta budaya yang membawa wayang kulit tampil di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, hingga Australia. Ia juga menjadi panutan bagi generasi dalang muda, termasuk cucunya, Ki Herjuno Pramariza, yang kini meneruskan jejak sang kakek di dunia pedalangan.

Kepergian Anom Suroto menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi Indonesia. Sosoknya dikenang sebagai dalang yang tidak hanya menghidupkan kisah wayang di panggung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur budaya Jawa di hati masyarakat.(Nugroho)

Berita Lainnya

Berita Terkini