Doktor ke-62 UMS dari PAI Dikukuhkan, Riset Digital dan Islamic Smart School Jadi Sorotan

Disertasinya mengangkat tema strategis tentang efektivitas manajemen sekolah berbasis digital dan pembelajaran Islamic Smart School

8 April 2026, 22:03 WIB

SUKOHARJO (Keadilan.net)Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi dengan mengukuhkan doktor ke-62 melalui sidang terbuka promosi doktor. Kali ini sosok yang dikukuhkan adalah Muhammad Arif Wicagsono, dari Program Doktor Ilmu Agama Islam (PAI) dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Dalam proses akademiknya, Arif dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Waston, M.Hum., serta Ko-Promotor Prof. Andri Nirwana, S.Th., M.Ag., Ph.D. Keberhasilannya menjadi doktor ini sekaligus memperkuat kontribusi UMS dalam mencetak akademisi unggul di bidang Pendidikan Agama Islam.

Disertasinya mengangkat tema strategis tentang efektivitas manajemen sekolah berbasis digital dan pembelajaran Islamic Smart School dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian tersebut dilakukan di SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta dan SMP Muhammadiyah Al-Kautsar PK.

Arif menyoroti bahwa dunia pendidikan saat ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi, seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Big Data, hingga robotik. Namun, ia menilai pemanfaatan teknologi digital di Indonesia masih belum optimal.

“Hal tersebut menyebabkan Indonesia belum mampu bersaing dengan negara maju,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi kendala, mulai dari keterbatasan akses internet, dominasi penggunaan teknologi untuk hiburan, kesenjangan sarana prasarana, hingga rendahnya pemanfaatan e-learning.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan manajemen berbasis digital di kedua sekolah telah berjalan pada berbagai aspek, seperti kurikulum, sumber daya manusia, kesiswaan, keuangan, hingga administrasi berbasis teknologi. Sementara itu, konsep Islamic Smart School dikembangkan melalui penguatan literasi digital guru, penggunaan kelas digital, integrasi TIK dalam pembelajaran, serta dukungan tim IT sekolah.

Menariknya, implementasi kedua pendekatan tersebut terbukti berdampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, dengan kontribusi sebesar 64,5% di SMP Muhammadiyah PK Kottabarat dan 29,9% di SMP Muhammadiyah Al-Kautsar PK.

Ko-Promotor Prof. Andri Nirwana menekankan bahwa capaian akademik ini harus diiringi dengan kualitas akhlak. Ia berharap para doktor, termasuk Arif, dapat menjadi teladan di tengah masyarakat.

“Doktor harus menjadi uswatun hasanah. Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membentuk akhlak, sehingga penting untuk terus memperbaiki diri dan meneladani Nabi Muhammad SAW,” pesannya.

Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga mencerminkan komitmen UMS dalam mendorong inovasi pendidikan berbasis teknologi yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.(NGR)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini